Text
Rempah Nusantara Merajut Dunia
Sejarah rempah berhubungan erat dengan sejarah kolonialisme. Karena rempahlah bangsa Portugis, Spanyol dan akhirnya Belanda datang ke Nusantara. Seluruh narasi sejarah tentang kolonıalisme dibangun di atas motif pengambilalihan dan monopoli akses untuk tiga komoditas mewah: pala, lada dan cengkeh. Apabila lahirnya kebangsaan Indonesia mesti ditempatkan sebagaİ jawaban terhadap kolonialisme, dan kolonialisme dibangun di atas obsesi atas rempah, maka dengan penalaran yang sama mestinya kita menyimpulkan pula: kebangsaan Indonesia sebagian dibentuk pula oleh sejarah rempah. Tak terhitung berapa banyak wawasan kebudayaan rakyat Nusantara yang punah akibat kolonialisme, tak terhitung berapa banyak teknik pengolahan hasil bumi, manuskrip, ritus, pengetahuan dan teknologi tradisional yang dipaksa hilang oleh pemberlakuan sistem administrasi "jalur rempah" dan "jalur bahanbaku" kolonial. Oleh karena itu, untuk menemukan relevansinya bagi situasi kebangsaan kitasekarang, kita mesti membaca ”rempah” secara kontekstual. Kita mesti menempatkannya sebagai alegori dari "kekayaan bangsa". Bukan hanya kekayaan dalam arti benda atau sumber daya alam, tetapi juga wawasan kebudayaan yang memungkinkan pengolahan terhadapnya. Dalam arti, kita tidak hanya bicara tentang lada, pala dan cengkeh, tetapi juga berbagai komoditas berharga dewasa ini: tanaman organik dan beragam sumber daya alam yang diolah melalui pengetahuan dan teknologi tradisional. Artinya, kita mesti berani menafsirkan ulang "jalur rempah” keluar dari bingkai kolonial, keluar dari narasi ironis tentang kekayaan sekaligus kesengsaraan bangsa dihisap oleh kolonialisme. Memberi arti yang baru pada "jalur rempah" berarti menunjukanjalur interaksi kultural antar masyarakat di Indonesia yang masih terus hidup dan ditandai oleh simpul-simpul praktik, pengetahuan dan teknologi tradisional dalam mengolah kekayaan bangsa. Membangun narasi "jalur rempah" yang relevan bagi situasi kekinian berarti mengidentifikasi dan membangun interaksi-interaksi kultural antar masyarakat yang mendorong tercapainya cita-cita kemerdekaan untuk "menentukan nasib sendiri" Konkritnya, kita mesti mulai berpikir dalam rangka mengusahakaq pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan cara pengolahan tradisional atas kekayaan bangsa serta mengupayakan pembinaan pada para pelakunya untuk memperluas partisipasi masyarakat.
Tidak tersedia versi lain